JAYAPURA, — Adanya isu yang dihembuskan sekelompok orang atau kelompok
belakangan ini bahwa kalau orang Gunung menjadi Gubernur akan
menginjak-injak orang lain. Hembusan itu ditepis Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang,
Drs,Welington Lod Wenda,M.Si .
Kepada penulis, belum lama ini di Jayapura, Wenda yang sampai
saat ini masih menjabat sebagai Bupati Kabupaten Pegunungan Bintang membeberkan
tindak kekerasan yang saat ini mengganggu kehidupan masyarakat Papua itu
yang identik disebut-sebut dilakukan oleh orang gunung.
Welington Wenda dengan tegas bahwa hal itu sama sekali tidak benar, dan
sangat keliru dan kalau memang ada maka dirinya sebagai orang tua
di wilayah Pegunungan Tengah Papua meminta maaf kepada keluarga
besar Papua, baik yang ada di pesisir pantai dan saudra yang datang dari luar
Papua.
Dikatakannya, orang gunung tidak ambisi jabatan. Orang gunung terbuka untuk
semua yang ada di Tanah Papua, apakah asli Papua atau imigran dari luar Tanah
Papua. “ Saya kasih contoh. Lihat di Pegunungan Bintang, masyarakat di sana dan
tanya kepada mereka. Masyarakat di Pegunungan Bintang sampai saat ini
hidupnya rukun, damai, saling tolong-menolong, menghargai satu sama yang lain.
Jangan buat issue miring yang tidak bermakna itu bahkan isu itu dapat
meniptakan konflik antara sesama orang asli Papua,” katanya berang.
Dirinya berharap kepada semua komponen bangsa untuk membuka hati dan telinga
dan tidak terpengaruh dengan isu-isu murahan yang sengaja diciptakan untuk
merusak tatanan kehidupan di Papua karena orang asli itu tau adat. Hidup rukun,
kasih, setia dan saying-menyayangi satu sama lain. “Orang gunung itu baik.
Jangan karena kepentingan sesaat buat issue yang tidak jelas malah bikin
rusak,” katanya mengingatkan. (krist)
Tentang Saya

- ansaka
- Jayapura, Papua, Indonesia
- Saya tidak pernah menginginkan merubah dunia yang sebesar ini, tetapi saya selalu berkeinganan merubah Papua mulai dari pribadi saya sendiri.
Komentar Anda
****SELAMAT DATANG****
Bagaimana dengan tulisan ini, saya ingin setiap orang yang membacanya bisa semakin ada harapan untuk memajuakan daerah PAPUA.
SALAM HANGAT.
Pengikut Blog
blog friends
-
Download Free: Gestational Diabetes Explained. Gestational Diabetes Symptoms, Diet, Meal Plan, Causes, Diagnosis, Treatments, Managing GD, Medication, Emotional Heal by Robert Rymore PDF - Read or Download Gestational Diabetes Explained. Gestational Diabetes Symptoms, Diet, Meal Plan, Causes, Diagnosis, Treatments, Managing GD, Medication, ...4 years ago
-
"....PAPUA DI MATA TUHAN...." - KESADARAN, BERTOBAT, HIDUP TAKUT TUHAN, LEPAS PENGAMPUNAN, DOA, BACA FIRMAN, BERSEKUTU, BERSAKSI, PUJIAN, PENYEMBAHAN DLLNYA. YANG HARUS KITA LAKUKAN DI SI...4 years ago
-
-
Misteri: Integrasi Papua Kedalam NKRI - Kamasanpost, Beberapa tahun belakangan ini rakyat Papua dibingungkan oleh isu integrasi sudah final yang tertulis dalam sebuah buku hasil karangan oleh ba...14 years ago
-
-
Pemkab Kirim 10 Mahasiswa Ke Unpad Untuk Mengikuti Program S2 - JAYAPURA-Pemkab Yahukimo terus menggenjot peningkatan sumber daya manusia melalui pendidikan dengan mengirimkan 10 orang mahasiswa asal Kabupaten Yahukimo ...16 years ago
Monday, April 22, 2013
Orang Gunung Jadi Gubernur Tidak Injak Orang Lain
Posted by
ansaka
at
7:45:00 AM
0
comments
IJTI Papua Kecam Aksi Teror Terhadap Wartawan di Kaimana
JAYAPURA, —Lagi-lagi kekerasan terhadap wartawan
di Tanah Papua, terjadi lagi. Kali ini giliran sejumlah wartawan di
Kabupaten Kaimana, Papua Barat.
Menurut pernyataan sikap dari Ikatakan jurnalis Televisi Indonesia –
Papua yang dikirm ke Koran Papua, bahwa ceritanya, gara-gara tulisan
yang berkaitan dengan dugaan identitas palsu Bupati Kaimana, Drs Matias
Mairuma, sehingga Yakob Onweng (Wartawan Fajar Papua) dan Dominika
Hunga Andung (Wartawan Radar Sorong) mendapatkan ancaman dari sejumlah
warga Kaimana yang menjadi kaki tangan Bupati Kaimana itu.
Dalam pernyataan sikap IJTI Papua No. 01/ IJTI-PAPUA/ I / 2013 yang
ditandatangani Ketua Bidang Advokasi & Kesejahteraan Ricardo Hutaean
dan Chanry Andrew Surupatty, disebutkan bahwa menurut Yakob Onweng
(Wartawan Fajar Papua), kejadian pengancaman ini terjadi pada
Jumat 18 Januari 2013 lalu, dirinya diancam sekitar pukul 17.00 WIT oleh
beberapa orang yang mengaku dekat Bupati Kaimana. Mereka mengancam
Yakob Onweng dengan umpatan agar menghentikan pemberitaan soal
kasus-kasus Bupati Kaimana karena dianggap pemberitaan yang ditulis
sudah keterlaluan.
Bukan hanya itu, Yakob Onweng mengaku, rumahnya dicat oleh orang tak
dikenal dengan sejumlah tulisan dengan umpatan. Karena merasa takut,
dirinya langsung melaporkan hal itu kepada Kepolisian Resort Kaimana
pada Jumat 18 Januari 2013.
Pengancaman tersebut bukan hanya terhadap Yakob saja, tetapi Dominika
Hunga Andung, wartawan Radar Sorong pun mendapatkan ancaman serupa.
Menurut Dominika, ada empat orang ke rumahnya. Dari empat orang itu,
ada dua perempuan yaitu Oce Latuperisa dan Mince Titirlalobi. Sedangkan
dua laki-laki lagi, tidak dikenal.
Keempat orang ini mengancam Dominika Hunga Andung untuk tidak boleh
lagi menulis pemberitaan tentang kasusnya Bupati Kaimana. “Rekaman
ancaman itu saya pegang sebagai barang bukti,” kata Hunga Andung.
Meski Dominika sudah menjelaskan bahwa dia dan beberapa temannya
sudah tidak menulis berita itu, tetapi mereka tetap ngotot dan mengancam
untuk tidak menulis lagi.
Dominika Hunga Andung juga mengakui, setelah ancaman tersebut,
dirinya langsung melaporkan hal itu ke Polres Kaimana. Laporan dengan
nomor polisi /LP-K/08/1/2013/Papua/Res Kaimana/SPKT tertanggal 19
Januari 2013.
Kasus pengancaman terhadap beberapa Jurnalis di Papua Barat adalah
buntut dari pemberitaan tentang dugaan Indentitas palsu yang disandang
oleh Bupati Kaimana Drs. Matias Mairuma yang sempat diberitakan oleh
beberapa media di Papua Barat.
Atas kasus pengancam tersebut, IJTI Papua, menilai bahwa dalam
menjalankan fungsinya, pers dilindungi undang-undang. Menurut Pasal 3
Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, pers nasional mempunyai
fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial.
Selain itu, Pasal 4 ayat 3 menyebutkan, “Untuk menjamin kemerdekaan
pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan
menyebarluaskan gagasan dan informasi.” Pasal lainnya, Pasal 6 d
mengatakan pers nasional berperan melakukan pengawasan, kritik, koreksi,
dan saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum.
IJTI Papua menilai tindakan pengancaman dan pemaksaan kehendak yang
dilakukan oleh beberapa orang dekat Bupati Kaimana terhadap sejumlah
wartawan di Kaimana beberapa waktu lalu bertentangan dengan
Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Semestinya para orang
dekat Bupati Kaimana, ataupun Bupati Kaimana sendiri dapat menempuh cara
penyelesaikan sengketa pemberitaan menurut Undang-Undang Pers, yakni
menggunakan hak jawab.
Kalaupun tidak puas bisa mengadukan ke Dewan Pers. Jika itu pun tidak
puas bisa menempuh jalur terakhir melapor ke kepolisian dan
menyelesaikan kasus lewat pengadilan.
Oleh karena itu, dalam kasus ini IJTI Papua menyatakan sikap:
Pertama, mengecam tindakan kekerasan (pengancaman dan pemaksaan
kehendak) yang dilakukan oleh beberpa orang dekat Bupati Kaimana Drs.
Matias Mairuma. terhadap Dua wartawan yakni Yakob Onweng (Wartawan Fajar
Papua) dan Dominika Hunga Andung (Wartawan Radar Sorong). Kekerasan
dengan alasan apapun tidak bisa dibenarkan. Dalam menjalankan
profesinya, jurnalis mendapat perlindungan hukum ( Pasal 8). Oleh karena
itu, kekerasan terhadap jurnalis bertentangan dengan Undang-Undang
Pers.
Kedua, mendesak Kepolisian Resor Kaimana untuk mengusut hingga tuntas
kasus kekerasan yang menimpa Dua wartawan yakni Yakob Onweng (Wartawan
Fajar Papua) dan Dominika Hunga Andung (Wartawan Radar Sorong).
Ketiga, menyesalkan tindakan pengancaman dan pemaksaan kehendak yang
dilakukan oleh orang- orang dekat Bupati Kaimana Drs. Matias Mairuma dan
mendorong untuk menempuh mekanisme penyelesaikan sengketa berita dengan
cara-cara yang sudah diatur dalam Undang-Undang No. 40 Tahun 1999
tentang Pers dan Peraturan Dewan Pers tentang Pedoman Hak Jawab.
“Semoga kasus-kasus kekerasan terhadap Jurnalis di Tanah Papua tidak
berulang di masa depan. Mari kita jaga dan perjuangkan kebebasan pers di
tanah ini,” ungkap Chanry Andrew Surupatty. (kans)
Posted by
ansaka
at
7:35:00 AM
0
comments
Mengkaji Isi Media Massa di Jayapura dan Aksi Potong Pohon Beringin
Posted by
ansaka
at
7:20:00 AM
0
comments
TAHUKAH KAMU, MENGAPA AKU DITANAM DI DEPAN KANTOR GUBERNUR???
Oleh Lien Tamnge-Maloali (Catatan)
BERINGIN YANG DITANAM DI DEPAN KANTOR GUBERNUR PAPUA LAMBANG KEBERSAMAAN DALAM MELINDUNGI HUTAN PAPUA DENGAN MENGEMBANGKAN SEKTOR REAL
Betapa bangganya kita apabila kita melihat apa yang kita tanam akhirnya tumbuh besardan rimbun, dan menjadi tempat berlindungnya banyak orang, menjadi tempatbertelurnya burung-burung di udara, tenpat tinggal cecak pohon, laba-laba lebah, dan berbagai mahluk yang selalu ada bersama dengan pohon dan berfungsi membersihkan udara disekitarnya.
Bayangkanjika HPH melakukan pilih, tebang, dan tanam kembali pasti yang 30 tahun lalu di tanam, pohonnya pasti sudah sebesar ini...
Berikut ini kisah tentang mengapa sampai ada pohonberingin besar dan rindang itu di halaman depan Kantor Gubernur Papua yang umurnya baru 38tahunan Suatu hari di tahun 1976 (saya lupa tanggalnya persis, tapi bisa dilihat di lobi kantor Gubernur Papua), pagi hari, masuk wali kelas kami dan mengumumkan bahwa kelas kami terpilih untuk ikut Upacara Peresmian Gedung Kantor Gubernur di Dok II, salah satu agenda peresmian hari itu adalah penanaman beberapa pohon-pohon sebagai perlambangan kebersamaan untuk melindungi hutan papua dan kembangkan sektor real bagi masyarakat Papua. Sehubungan dengan Gubernur Irian Jaya pada waktu itu Kol. Soetran mantan bupati Trenggalek yang yang pernah sukses membawa masyarakat Trenggalek berjaya pada sektor real, maka Soetran pun mencanangkan program utama pertanian dan perkebunan, sehingga pada masa pemeritahannya di Irian Jaya, beliau mencanangkan masyarakat untuk menanam cengkeh. Sampai-sampai Bagian depan halamanGedung Negara pun ditanami pohon-pohon cengkeh (3 setengah tahun ditanam akhirnya cengkeh itu berbunga). Beliau ingin agar masyarakat tidak hanya hidup dari memanfaatkan hasil hutan sebagai sumber pendapatan, tetapi ingin memberikan ruang dan waktu agar masyarakat mengerti untuk dapat mengelola hutan dengan baik dan bijaksana,beliau mengajarkan masyarakat untuk bertani dan berkebun cengkeh (memanfaatkan kebun-kebun yang sudah ada).
Sehingga pada saat peresmian Gedung Kantor Gubernur Irian Jaya, Agenda lain sebelum Peresmian Gedung Kantor Gubernur dilakukan penanaman pohon perlambang kehidupan untuk MENGINGATKAN Orang Papua bahwa Hutan harus dikelola dengan baik dan dijaga keasriannya secara bersama-sama, maka pada hari itu setelah peresmian Gedung Kantor Gubernur Propinsi Irian Jaya, maka dilanjutkan dengan acara Penanaman POHON BERINGIN KEBERSAMAAN DALAM MENJAGA HUTAN PAPUA DENGAN MENDORONG PENINGKATAN SEKTOR REAL BAGI MASYARAKAT PAPUA. Sebenarnya ada dua pohon yang kami tanam tetapi yang satu tidak dapat hidup dan tinggallah satu saja yang hidup dan menjadi besar, dan menjadi ICON PERLINDUNGAN HUTAN di Kantor Gubernur, jika masyarakat datang ke Kantor Gubernur dapa berteduh dibawah naungannya, tanpa berpikir tentang salah satu lambang partai bahkan. Sebab saat pohon itu di tanam, orang Papua mengetahui PAYUNG SEBAGAI LAMBANG GOLKAR. Sayang pohon ini harus dimusnahkan dengan alasan yang kurang jelas. Karena waktu ditanam alasannya jelas sekali. PERLINDUNGAN TERHADAP HUTAN SECARA BERSAMA-SAMA dan semboyang ini tak pernah dituliskan pada pohon sehingga pada tanggal 19 April 2013 ditebang.
Pohon Beringin ini diberi tanah masing-mang satu skop oleh berbagai pihak diantaranya: Menteri Dalam Negeri, diikutioleh Gubernur, Rohaniawan darimasing-masing denominasi dan Gereja Katolik, MUSPIDA, dan berbagai komponen masyarakat mulai dari anaksekolah, SD, SMP, Mahasiswa, Pengajar, Pegawai Negeri, ABRI, Polisi,Dharmawanita, Dharma Pertiwi, Ondofolo dan Ormas serta Organisasi Sosial, dan juga Mentri Dalam Negeri dan Tamu dari Luar Negeri adalah Gubernur Province Sundown, PNG, hampir semua perwakilan komponen masyarakat, memberikan tanah pada pohon ini. INI MOMMENT PENTING YANG MENJADI LAND MARK ORANG PAPUA.
Dari sekolah menegah Atas, saya dan teman-teman se kelas saya. Kelas 1 Bahasa, SMA GABUNGAN mewakili seluruh siswa-siswi SMA di seluruh Propinsi Irian Jaya untuk menuangkan satu sekop tanah ke dalam lubang di samping pohon beringin itu yang saat itu masih sekitar satu meter tingginya. Setelah tanam pohon itu, dan sirena tanda diresmikan berbunyi dan penandatanganan prasasti peresmian gedung, kita semua diundang masuk ke dalam gedung, sewaktu berjalan kami sempatkan diri untuk berlatih bahasa ingris kami dengan rombongan dari PNG dan sambil berseloroh, Gubernur Sundauwn berkata "Oneday this tree will be a wittness of the freedom" (ya.. ya.. ya... pasti sudah, oleh karenanya ditebang)
Nah yang ingin saya tegaskan adalah, bukan soal pohon itu ditanam tetapi kata-kata pencanangan untuk mengingatkan kita kepada kebersamaan dan perlindungan hutan,maka sebagai salah satu orang yang turut memberikan tanah kepada pohon beringin itu untuk bisa hidup sampai sekarang.
Saya marah dan protes keras atas pemberitaan tentang rencana penebangan pohon Beringin Rindang Asli Papua, yang di kota Jayapura tersisa 3 pohon saja, dua diantaranya yang satu jenis ada di Kantor Gubernur dan satu lagi di halaman SMK Negri 3 Kotaraja, karena BERINGIN YANG DI DEPAN KANTOR GUBERNUR ADALAH ICON BAGI SELURUH ORANG PAPUA UNTUK MENJADI BAROMETER PERLINDUNGAN HUTAN PAPUA DARI PENGRUSAKAN LINGKUNGAN ATAS NAMA PERCEPATAN PEMBANGUNAN, KEBUTUHAN NASIONAL DAN LAIN-LAIN YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB TERHADAP KEMAKMURAN ORANG PAPUA YANG PUNYA TANAH, HUTAN, AIR DAN UDARA, DIMANA KAMI DICIPATAKAN DI ATASNYA DENGAN PEMBAGIAN YANG JELAS. GUBERNUR KE GUBERNUR HARUS INGAT ITU.
Apalah arti hidup sebatang pohon beringin, yang tidak dapat berteriak memprotes perilaku manusia atas kesewenang-wenangan untuk menebang dan memotongnya ,padahal jika kita lihat dari fungsinya pohon ini telah lebih dari 30 tahun menyerap karbon dan setiap hari setia membersihkan udara di sekitarnya. Papua adalah surga kecil yang jatuh kebumi, dalam hubungan dengan kesatuan.
Catatan penting bagi Orang Papua:
1. Eko-region dunia Papua adalah Hutan Hujan Tropis yang harus di jaga keasriannya, karena jika hutan hujan tropis Papua rusak, maka tidak ada orang lain yang dapat menolong kita, karena bencana perubahan iklim telah melanda pulau dan benua lainnya. Maka kita sendirilah yang harus bangkit untuk memperbaiki kerusakan yang diakibatkan oleh bencana perubahan iklim itu.
2. BUKANKAH POHON BERINGIN INI TELAH MENJADI ICON KEBERSAMAAN ORANG PAPUA YANG BERJANJI UNTUK MENJAGA HUTANNYA DAN MENGEMBANGKAN SEKTOR REAL.
3. PEPATAH ORANG ADAT ADALAH, KALAU KITA HENDAK MENEBANG SATU BATANG POHON KITA HARUS BERTANYA KEPADA BURUNG-BURUNG, ULAR, LEBAH, LABA-LABA, TIKUS DAN JUGA CECAK YANG HIDUP DALAM NAUNGAN POHON ITU.
HIMBAUAN KEPADA PEMERINTAH TERUTAMA SKPD YANG BERKAITAN LANGSUNG DENGAN HUTAN DAN SUMBER ALAM LAINNYA, SEHARUSNYA KALIANLAH YANG HARUS BIJAKSANA UNTUK MEMBERIKAN NASEHAT YANG BAIK KEPADA GUBERNUR, UNTUK DAPAT MENGELOLA HUTAN DENGAN BAIK DAN TIDAK MENGUNAKAN BERBAGAI HAL TERUTAMA TEKANAN INVESTOR DAN BERBAGAI TEKANAN DARI PIHAK LAIN, YANG JELAS-JELAS MEMISKINKAN ORANG PAPUA.
HUTAN PAPUA MILIK ORANG PAPUA DAN BARNABAS SUEBU GUBERNUR LALU TELAH MENCANANGKAN "HUTAN KEMBALI KE MASYARAKAT", NAH TINGGAL SEKARANG BUKTIKAN BAHWA RAKYAT MENJADI SEJAHTERA DAN BERADAB SEPERTI YANG DICETUSKAN GUBERNUR PAPUA YANG BARU.
"Ukuran yang kita gunakan untuk mengukur sesuatu, ukuran yang sama juga akan dipakaikan kepada kita"
Jayapura, Pertengahan April 2013,
Lien Maloali
Penjaga Hutan Papua, Pekerja Lingkungan
“pantang tebang pohon kalau tidak perlu”
Read More......
Posted by
ansaka
at
7:04:00 AM
0
comments
Rintihan
Dimana bisa membantu, menolong, menyelamatkan mereka para kaum yang tak mampu dan tak bisa bersuara. Bagi saya itu adalah pekerjaan yang sungguh sangat mulia.
Memang menjadi seorang Jurnalis banyak sekali tantangan yang harus di hadapi, dimana bertemu dengan setiap oknum yang punya kepentigan tertentu. Tapi semua itu adalah ujian bagi kita.
Dimana saya selalu bertindak secara arif, agar menjadi seorang Jurnalis yang dapat berguna dan bermanfaat bagi warga Papua yang saya cintai dan banggakan.
salam
Krist Ansaka
Kunjungan
Labels
- ALEX HASEGEM (3)
- APBD (1)
- BARNABAS SUEBU (3)
- DPRD PAPUA (1)
- GUBERNUR PAPUA (3)
- HUKUM (1)
- KABUPATEN JAYAPURA (5)
- KABUPATEN KEEROM (2)
- KABUPATEN NABIRE (1)
- KABUPATEN PUNCAK JAYA (1)
- KABUPATEN SARMI (2)
- KABUPATEN SUPIORI (2)
- KOMNAS HAM (2)
- MILITER (1)
- MOSSO (1)
- MRP (4)
- OPINI (1)
- ORANG TABI (1)
- OTONOMI KHUSUS (3)
- PAPUA (10)
- PAPUA BARAT (1)
- PELANGGARAN HAM (1)
- PEMBERDAYAAN KAMPUNG (5)
- PERSIPURA (2)
- PILKADA (1)
- PUBLIK (1)
- RAJA AMPAT (1)
- RESPEK (3)
- ROHANI (1)
- SIPORA BORAY (1)
- SUARA PEREMPUAN PAPUA (7)
- TURKAM (4)
- UNCEN (1)
- UNDANG-UJNDANG (1)
- UNDANG-UNDANG (3)
- WALIKOTA (1)